Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2024

22 jam di Istanbul

 Dalam post ini gua ingin ngomongin tentang pengalaman gua mengunjungi Istanbul selama 22 jam. Gua ke Istanbul sebenarnya cuma transit aja karena kita kan udah gak perlu visa untuk mengunjungi Turki makanya gua memilih Turkish Airlines. Gua mendarat di Istanbul jam 7 malam karena memang ada perubahan jadwal keberangkatan yang sudah mereka informasikan beberapa hari sebelumnya. Gua sebenarnya sempet nyasar karena memang bandaranya itu gede banget dan gua bukannya ke arah imigrasi tapi malah transferring passenger. 

Antrian imigrasi gak begitu lama dan gua tidak ditanya apa-apa, cukup mudah memang meskipun si petugas imigrasi jutek banget. Ketika gua keluar, gua langsung menuju stasiun metro bandara, itu karena memang gua memiliki budget yang terbatas sehingga ya gua mencoba sehemat mungkin, salah satunya adalah dengan menggunakan metro which is sebenarnya ya MRT mereka biar lebih murah dan juga lebih cepet. Disana gua nginep di Airbnb yang deket dengan Taksim Square, cukup convenient. 


Gua kemudian jalan-jalan sekitar Taksim dan Istiklal Avenue, itu adalah area yang sangat mirip dengan tipikal kota di Eropa. Setelah sekitar jam 11 malam, gua pun pergi ke Airbnb yang pada dasarnya adalah bangunan yang usianya sudah sangat tua karena memang disana banyak banget bangunan tua, ada yang sudah direnovasi, ada yang terbengkalai. Setelah tidur malam dan istirahat, gua bangun pagi itu udah telat banget dan itu juga hujan yang membuat sulit kemana-mana, apalagi gua gak ada payung dan itu suhunya 8 derajat celcius. Gua sempetin untuk pergi ke atas stasiun metro Halic yang menyediakan pemandangan yang bagus banget. Sayangnya karena waktunya kritis banget gua gak sempet eksplor lebih jauh, but it's okay karena gua memang ingin mengunjungi lagi kotanya. 



Selasa, 23 Januari 2024

Pengalaman dengan Turkish Airlines

 Halo semua, jadi tanggal 8 Januari kemaren adalah hari yang besar gua karena pada hari itu gua akhirnya berangkat ke Italia untuk memenuhi kewajiban gua dalam menyelesaikan program master yang saat ini gua jalani. Gua pergi kesana menggunakan maskapai Turkish Airlines dan jujur aja ini adalah pengalaman yang sangat berharga. 

Semua bermula pas gua lagi milih tiket dengan nyokap gua, saat itu nyokap gua bilang untuk tiket pilih yang paling murah dan saat itu yang paling murah adalah Eva Air yang berarti gua harus transit di Taiwan. Pilihan berikutnya adalah Etihad dan kalau pilih ini ya gua bakal transit di Abu Dhabi. Turkish Airlines adalah pilihan termurah ketiga. Masalahnya adalah untuk transit di Taiwan ataupun Abu Dhabi kita sebagai warga Indonesia harus apply visa transit dan bayarnya kisaran 50 USD. Ya sekarang hitung aja harga tiket plus visa transit ya bikin kita spend lebih banyak duit kebanding kalau pilih Turkish Airlines dan transit di Istanbul yang dimana warganegara Indonesia tidak perlu visa untuk berlibur sebulan di Turki.

Akhirnya ibu gua setuju untuk memilih Turkish airlines dengan opsi transit selama 22 jam di Istanbul. Untuk detail transit akan gua tulis di post berikutnya tapi gua akan fokus ke pengalaman gua dengan Turkish Airlines ini. Jadi pesawatnya ini berangkat pada tanggal 8 Januari 2024 jam 9.50 pagi dari Jakarta dan perjalanan kesana adalah 12 jam 30 menit. Armada yang digunakan pada penerbangan ini adalah Airbus A350 yang dimana pesawat ini tuh keren banget. Yang lucu adalah gua tuh mau check in online tapi kalau lu mau pilih seat sendiri yang harus bayar lagi jadinya ya seat-nya dipilih random pas check in di Bandara. Cuma karena gua sangat mengupayakan untuk check in online, gua sampai sign up untuk miles&smiles Turkish Airlines dan tiket gua dimasukkan ke poin miles. Berkat hal tersebut gua jadi sign in wifi pas lagi penerbangan. 


Selama penerbangan gua dapat tempat duduk ditengah which is unfortunate karena gua mau bikin videonya tapi mereka punya outside camera yang bisa kita akses di layar yang ada dihadapan kita. Akhirnya gua tetap memutuskan untuk membuat video tersebut. Seisi pesawat mayoritas ya kalo nggak orang Indonesia yang bepergian keluar negeri atau turis yang abis mengunjungi Indonesia, hampir gak ada orang Turki. Gua duduk bersama 2 orang Indonesia lainnya dan kita akhirnya berkenalan dan ngobrol banyak selama penerbangan. 


Makanan yang disediakan itu enak banget dan banyak juga, kita bahkan dikasih menu. Untuk toilet sendiri ya cukup bersih. Untuk pramugari dan pramugara-nya ya menurut gua dibanding dengan Garuda mereka gak seramah Garuda, meski begitu ya gak jadi masalah sih karena pelayanannya sangat bagus. 

Kita pun sampe di Turki jam 6 sore waktu sana dan gua sedikit kesasar karena salah masuk area. Ini adalah kali pertama untuk gua melalui imigrasi tanpa pemeriksaan visa karena memang WNI tidak perlu visa untuk sebulan kalau berkunjung ke Turki. Gua pun menghabiskan 21 jam di Istanbul. Jam 2 siang gua balik lagi ke Bandara Istanbul dan bandara ini emang gede banget. Perjalanan Istanbul dan Milan ini lah yang merupakan kejutan terbaik yang pernah gua dapatkan. GUA DI UPGRADE KE KELAS BISNIS!!! Yoi, bener banget. 

Gua sendiri sangat terkejut. Perjalanan Istanbul Milan itu gak lama sih, dua setengah jam udah nyampe. Bagaimanapun pengalaman naik kelas bisnis ini yang tidak terlupakan karena kelas bisnisnya ini bukan yang kayak kelas bisnis Boeing 737 yang dua deret kursi lebar, ini beneran kelas bisnis yang elu bisa tiduran. Armada yang digunakan adalah Airbus A330-300. 


Kursinya tuh sebenarnya sudah cukup menunjukkan usianya, tapi jujur aja gua gak peduli karena untuk bisa terbang dengan kelas bisnis tuh lu harus bener-bener tajir melintir dan ini dengan tiket diskonan lu bisa naik kelas bisnis, ini bener-bener rejeki terbaik yang pernah gua dapatkan. Makanannya aja berkelas banget. 


Gua nyampe di Milan jam 4.30 sore dan proses sampe lewat imigrasi tuh kira-kira sejam lah, belom nunggu bagasi. Di imigrasi gua cuma ditanya satu pertanyaan yaitu dimana gua akan belajar dan setelah itu gua cuma disuruh taro jempol kanan gua di pemindai sidik jari setelah itu gua akhirnya diloloskan. Gua nyampe Turin jam 9 malam karena memang jarak Milan ke Turin itu kira-kira 150km dan pas nyampe apartemen gua akhirnya tepar. 

Senin, 01 Januari 2024

Visa Italia Gratis

 Halo guys, kalian udah baca judulnya? yaps, bener, gua dapet visa Italia GRATIS!!!

Jadi gimana ceritanya gua dapet visa gratis? well silakan ikuti cerita gua dengan seksama. 

Sejak bulan Oktober kemaren, gua udah mulai melihat website imigrasi Italia yang bernama Prenot@mi. Sekedar info Kedubes Italia sudah tidak lagi bekerja sama dengan VFS Global, jadi kalau mau apply visa harus langsung dateng ke Kedutaan. Untuk apply visa seperti proses pada umumnya dibanyak negara, kita harus membuat appointment dulu melalui website imigrasi negara tersebut, dalam kasus ini website-nya adalah Prenot@mi. Sejak bulan Oktober, gua sudah mengawasi website tersebut setiap hari pas gua bangun pagi atau pas gua tidur telat setelah jam 12 malam, gua selalu buka untuk melihat availability. Sayangnya setiap hari selalu penuh. Karena tidak ada slot dan November sudah hampir berakhir, gua memutuskan untuk menulis email ke Kedutaan. Hari itu juga gua mendapat jawaban dimana orang Indonesia yang bekerja didalam embassy, bilang aja orang dalam dan dia memberi gua nomor WhatsApp dia dan gua mulai chattingan dengan dia. Berdasarkan info dari dia, Italia memang sengaja menutup slot untuk visa short stay atau visa turis karena mereka menganggap kita bisa apply ke negara Schengen lainnya dan memakai visa-nya untuk ke Italia. 

Singkat cerita, gua melakukan appointment melalui chat WA dan gua mendapat jadwal Hari Rabu tanggal 6 Desember 2023. Sebelum gua apply memang gua sepanjang dua bulan gua mengamati web mereka, gua sambil menyiapkan semua dokumen yang diperlukan. Apa aja dokumen yang diperlukan ? : 

- Identity 

  • Form permohonan
  • dua foto 35mmx45mm background putih
  • Fotocopy biodata paspor
  • Paspor
  • Akta kelahiran

- Surat dari kampus

  • LOA
  • Supporting letter

Financial evidence

karena gua sepenuhnya dibiayai ortu tanpa beasiswa, yang gua masukkan adalah :

  • work reference bokap gua
  • slip gaji tiga bulan bokap gua
  • rekening koran bokap gua tiga bulan

- Accommodation

  • bookingan apartemen 
  • tiket pesawat

Ties with your country

  • sponsorship letter dari ortu 
  • KK

6 Desember 2023

Gua pergi kesana ke Kedutaan Italia yang lokasinya deket banget sama Stasiun Cikini. Gua sampai disana jam 9.52 pagi dan gua bilang ke satpam kalau gua udah ada appointment untuk visa. Satpam tersebut sudah memegang kertas yang isinya daftar orang-orang yang sudah membuat appointment untuk visa. Saat gua cek, nama gua gak ada, karena hal tersebut, gua menunjukkan chat gua dengan si orang dalam ini dan dia pun meminjam KTP gua dan masuk ke dalam. Sekitar lima menit kemudian dia nyuruh gua masuk. Setelah security screening dan taro hape dan KTP, gua langsung disuruh ke konter penyerahan dokumen. Lucunya adalah ada beberapa orang yang sudah datang sebelum gua dan mereka masih menunggu nomor antrian mereka dipanggil tapi malah gua duluin mereka. Permohonan visa gua hampir aja gagal karena orang didalam konter balikin akta kelahiran dan semua financial evidence gua.

Berawal dari kesalahpahaman yang kita berdua gak sadar, pas dia baca dokumen-dokumen gua, dia tanya 

him : ini semua sudah dibayar? 

me : iya udah 

Dia mikirnya gua dapet beasiswa, dipikiran gua adalah ya jelas semua udah dibayar, biaya kuliah udah, tiket pesawat udah, akomodasi udah, semuanya ya udah siap. 

Kan dokumen bukti finansial itu termasuk dokumen yang paling krusial pada permohonan visa, kemanapun elu apply visa, pasti akan selalu diminta financial evidence, lah tau-tau semua dokumen finansial dibalikin. Awalnya gua sempet iyain aja, tapi kemudian jantung gua deg-degan parah dan gua langsung tanya, karena memang aneh banget masa petugas visa gak mau tau latar belakang finansial pemohonnya, padahal itu sangat penting dan akhirnya gua tanya 

me : kok gak perlu dokumen finansial? atau sudah ada jaminan dari kampus?

him : emang kenapa?

me : sudah ada jaminan kah disurat dukungan dari kampus saya? 

him : (buka surat dari kampus dan membacanya)

him : oooh kamu biaya sendiri ya, gak pake beasiswa

me : iya

him : oh kalo gitu balikin lagi sini semuanya kecuali akta kelahiran

Akhirnya semua dokumen finansial gua balikin ke dia dan kemudian setelah pemindaian sidik jari, gua pun pergi dan di receipt tulis tangan disitu tulisannya adalah gua bayar nol rupiah untuk biaya visa. Kenapa gua bisa gak perlu bayar biaya visa? jawabannya ada di support letter dari kampus gua yang berbahasa Italia. Karena suratnya berbahasa Italia, gua gak ngeh kalau ternyata disitu tertulis bahwa ITCILO meminta pihak kedutaan Italia di Jakarta untuk memberikan visa gratis buat gua. 


12 Desember 2023

Gua baru aja abis diurut sama temen gua dan udah rileks, eh dapet lah email ini 


Sepengetahuan gua, kalau visa itu keputusannya udah ada lebih cepet dari rata-rata waktu proses, biasanya itu ditolak, makanya waktu gua dapet email ini, gua gak yang langsung optimis, bahkan gua pesimis abis. Berdasarkan info dari email tersebut karena bisa diambil pada keterangan waktu tersebut, akhirnya gua langsung ambil besoknya. 


13 Desember 2023

Gua pergi ke kedutaan, nyampe disana jam 14.25 dan gua masuk. Setelah melewati pemeriksaan keamanan dan taro hape plus KTP, gua langsung duduk. Disitu karena gak banyak orang jadinya ya semua tinggal mengingat secara mandiri saja siapa yang dateng duluan. Setelah orang yang dateng sebelum gua udah selesai ambil paspor, gua ke konter untuk ambil paspor gua. Didalamnya halaman depan setelah cover, ada kertas warna putih. Pengetahuan gua yang lain dan juga berdasarkan pengalaman gua sebelumnya apply visa, kalau visa di approve, kita hanya menerima paspor. Kalau kita menerima suatu hal tambahan kayak kertas putih, itu umumnya permohonan ditolak dan kertas tsb adalah surat penjelasan kenapa permohonan ditolak. Disini pas gua liat ada kertas putih didalam paspor gua, tiba-tiba aja didalam hati gua berasa hancur, dan gua berusaha kuatin mental sedikit aja sampe gua keluar. Setelah gua keluar, gua langsung ambil kertas tsb dan pas gua buka isinya adalah print out receipt permohonan visa gua. Dengan sigap gua langsung buka paspor gua dan ini lah isinya





 

Minggu, 17 Desember 2023

Indonesian railway evolution

Industri kereta api di Indonesia beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang sangat signifikan terutama dalam sistem dan juga pelayanan. Untuk KRL Commuter line sebenarnya gua gak terlalu kaget karena memang dulu pas gua masih gap year, gua naik kereta KRL hampir setiap hari. Pada tahun 2022 rute kereta api KRL sudah berubah dimana sekarang kalau mau pergi ke Jakarta Kota dari Bekasi harus transit dulu di Manggarai karena memang sekarang rute Bekasi akan mengarah ke Tanah Abang. Selain itu rute dari Bogor hanya tersedia untuk ke Jakarta Kota dan tidak ada yang ke Tanah Abang lagi sehingga penumpang yang dari Bogor harus transit Manggarai jika mau pergi ke Tanah Abang. 

Ya kurang lebih itu adalah sedikit basa basi tentang KRL Commuter, tapi disini yang ingin gua highlight adalah evolusi kereta api di Indonesia secara keseluruhan, terutama setelah pembukaan kereta cepat Jakarta Bandung yang diberi nama Whoosh. Gua pertama kali naik kereta itu ya kalo inget dulu KRL ekonomi yang gak punya pintu dan banyak yang bahkan manjat keatas kereta. Dulu tuh jadi orang Indonesia tuh berasa minder banget karena jika kita melihat negara tetangga kita, Singapura, Malaysia, bahkan Thialand itu justru mereka lebih maju dalam bidang ekonomi dan juga infrastruktur. Yang paling bikin minder lagi adalah pas film Mr Bean Holiday rilis pas tahun 2008 dimana ya semua bisa melihat majunya kereta di Inggris dan Perancis. Kemudian juga Jepang dengan Shinkansen dan juga China mulai aktif membangun kereta cepat. Gua yang tumbuh besar dengan orang tua yang sering pergi keluar negeri dan bokap gua dulu kerja di luar negeri sering mendapat cerita bagaimana majunya negara lain dan gua tuh merasa Indonesia itu yang paling ketinggalan. Gak usah jauh-jauh melihat negara seperti Jepang, Jerman, Perancis, kita bisa melihat negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia. Pertama kali gua menjajakan kaki di bandara Kuala Lumpur aja gua waktu itu sudah minder karena saat itu terminal tiga masih belum buka dan itu membuat gua udah langsung minder as soon as gua turun dari pesawat karena kualitas airport kita aja udah beda jauh banget. 

Well fast forward ke tahun 2023 gua bisa bilang perkembangan industri kereta api kita for the past 10 years itu sangat pesat dan lot's of changes that I really glad to see. Bulan Juni kemaren gua embarked on a journey ke Yogyakarta karena gua ada interview kerja dengan Susi Air di STKD Yogyakarta dan gua pergi kesana menggunakan kereta api karena ya menurut gua lebih konvenien daripada naik pesawat which requires me to arrive at the airport early and then with waiting, boarding dan lainnya technically gak beda jauh dengan kereta. Gua pergi kesana menggunakan kereta api Bangunkarta dan total perjalanan adalah 8 jam yang sebenarnya seharusnya 7 jam namun ya kalau kalian udah nonton video gua di Youtube bisa liat kalau kereta sempet mogok. Kereta Bangunkarta sendiri merupakan kereta campuran kelas eksekutif dan ekonomi dan saat gua melihat kereta ekonomi jujur aja gua cukup terkejut karena sudah sangat berbeda, kereta ekonomi saat ini sudah bisa dibilang setara dengan standard kereta ekonomi di Eropa dimana keretanya memiliki kursi yang at least bisa di recline, memiliki power socket dan yang paling penting sudah jauh lebih teratur kebanding dulu yang orang berdiri bahkan sampai manjat keatas kereta. 

Gua balik dari Yogyakarta menggunakan kereta api Argo Semeru yang sebarnya adalah kereta Bima versi siang. Kesan gua selama perjalanan kereta dari Yogyakarta sangat nyaman dan meskipun masih kereta yang ditarik lokomotif, tapi sudah tidak memalukkan lagi seperti pas gua masih kecil. Peningkatan lain yang gua sadari adalah banyak jalur tunggal yang sekarang udah jadi ganda dan juga koridor Jatinegara Bekasi sekarang udah 4 jalur sehingga memberi leluasa untuk KRL dan kereta intercity

Seperti yang kita tahu bahwa bulan Oktober kemaren kita baru aja membuka jalur kereta cepat antara Jakarta dan Bandung dan bulan lalu Alhamdulillah gua mendapat kesempatan untuk naik kereta cepat tersebut. Mungkin gua gak perlu kasih tau detail perjalanannya secara detil ya karena bisa langsung dilihat di Youtube gua tapi gua akan berbagi tentang pendapat gua aja disini. Kereta cepat Jakarta Bandung buat gua ya bisa dibilang milestone banget untuk Indonesia karena kita mempersembahkan kereta cepat pertama di Asia Tenggara dan juga pada skala yang jauh lebih besar, kereta cepat pertama yang berada dibelahan selatan khatulistiwa. Satu hal yang gua sedikit gak puas dengan kereta cepat ini adalah gua berharap jalurnya bisa lebih panjang dari Jakarta Bandung, tapi bagi gua the most important thing is to start, karena memulai itu umumnya lebih sulit daripada melanjutkan. Jika tidak percaya dengan perkataan tersebut ya kita bisa melihat jauh ke barat di Amerika Serikat dimana mereka sudah memulai konstruksi kereta cepat sejak 2008 dan sampai sekarang belum selesai, rel aja belum dipasang. Melihat keselatan juga Australia juga gagal untuk memulai proyek mereka dan juga negara tetangga yang dulu bikin kita iri, Singapura dan Malaysia juga gagal dalam memulai. 





Ya paling segitu aja pendapat gua tentang kereta cepat dan gua hanya berharap semua pencapaian 1 dekade terakhir terus berlanjut. 

Rabu, 13 Desember 2023

Pengalaman Umroh

 Halo guys, di post ini gua bakal cerita sedikit tentang pengalaman gua Umroh. Sebenarnya ya Umroh ini lebih ke Tasyakur gua karena gua diterima untuk lanjut studi master di Italia, more on that to come. Jadi ya Ibu gua memang sudah menawarkan ke gua untuk perjalanan Umroh ini. Ya karena paspor gua itu diperbarui tahun 2020 dan sampe sekarang belom kepake, yaudah gua mah iya aja, meskipun technically gua agak unease diawal karena gua ini tipe orang yang suka solo traveling kebanding traveling group. Yah karena nyokap gua agak maksa dan untuk membahagiakan nyokap gua (which is the term have the opposite definition) yaudah gua putuskan untuk berangkat. 

Jadi gua itu berangkat Umroh tanggal 5 Agustus (lumayan telat ya postingannya), dan gua kesana menggunakan travel Umroh bernama Albis yang kantornya beralamat di Tebet, Paman gua yang merupakan seorang Kyai bekerja disana sebagai pendamping Jamaah. Gua berangkat menggunakan maskapai Garuda Indonesia dari Jakarta terbang direct ke Madinah. Ada sedikit drama di imigrasi karena salah satu Jamaah yang difabel yang merupakan Om gua yang anggota jauh keluarga besar gua ditahan karena kesalahan print yang ada di visanya. Visanya itu elektronik, jadi print out, bukan yang visa stiker yang ditempel di halaman paspor. Pas gua cek Jama'ah yang lain ternyata mereka semua salah print, cuma visa gua doang yang isinya bener. Kesalahan print-nya itu ada ditanggal validasinya dimana bukannya waktunya maju malah mundur. Periode validasinya mundur dari 31 Juli 2023 ke 30 Juni 2023. Tapi setelah gua ngobrol sama petugas imigrasinya, dimana dia nahan karena gak mau kita kena masalah pas nanti di Saudi, gua bilang ke dia kalau ini kesalahan minor mungkin ada di sistem E-Visa pemerintah Saudi, akhirnya dia meloloskan Om gua ini. 

Setelah lolos Imigrasi di Jakarta kita pun akhirnya masuk ke pesawat dan terbang ke Madinah. Perjalanan dari Jakarta ke Madinah itu kurang lebih 9 jam dan dipesawat dapet makan dua kali. Nyampe di Madinah itu jam 8-an malam. Setelah mendarat dan lewat imigrasi, kita nunggu ada lah sekitar 40 menitan sampe akhirnya bus kita berangkat dari Bandara Madinah. Selama nunggu itu ya koper kita diambil oleh agen mereka, terus dibawa ke bus. Pas lagi di bus paman gua ngambil paspor kita semua karena memang udah peraturan dari Arab mewajibkan kita untuk menyerahkan paspor, gantinya kita dapet nametag dan semua Jama'ah pakai nametag, makanya gampang banget kalau mau tau asal negara setaip orang yang kalian lihat. Disana kita dipandu oleh Muthawif asal Lombok yang dia ini tinggal di Mekkah dan memang secara spesifik pekerjaannya adalah Muthawif untuk Jama'ah Indonesia di Saudi. Gua dan Jama'ah lainnya stay di Hotel namanya One Inn yang terletak pas banget di seberang Masjid Nabawi. Sambil proses masukin koper ke hotel, Muthawif kita ngajak kita masuk sedikit ke pelataran Masjid Nabawi untuk melihat suasana Masjid Nabawi. 

Esoknya kita bangun dan hari itu kita gak kemana-mana sih karena memang agendanya adalah Sholat di Raudhoh dan untuk bisa masuk kesana ya harus ngurus ijin dan itu Muthawif yang ngurus dan ada waktu saat itu dibuka dan ada giliran untuk cowo ada giliran untuk cewe. Hari itu ya gua sekedar pergi jalan kaki keliling Madinah (sebenarnya cuma sekitaran Masjid Nabawi aja). Hari itu gua ketemu banyak orang Malaysia yang tinggal disana sebagai trainee Muthawif. Saya sempat pergi ke mall kecil yang ada disebelah Masjid Nabawi dan disitu gua diajak ngobrol bareng dengan beberapa trainee Muthawif dari Malaysia dan jujur gua seneng ngobrol dengan mereka karena gua memang selalu embrace persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia. 

Hari ketiga kita ada acara City Tour Madinah. Perjalanan diawali dengan pergi ke Jabal Uhud dimana disitu terjadi perang Uhud. Disana terdapat satu lahan yang dipagar dan itu adalah makam para Syuhada perang Uhud. Di Jabal Uhud sendiri areanya luas dan disana banyak merpati yang terbang dan ada orang yang jualan kuaci mentah untuk dikasih ke burung, itu seru banget. Selanjutnya kita pergi ke Masjid Quba dan Sholat disana dan setelahnya kita pergi ke kebun kurma untuk santai-santai dan para ibu-ibu pada belanja. 


Hari keempat adalah hari yang panjang karena hari itu kita pergi ke Mekkah, dan sekedar info, kita ke Mekkah menggunakan bus. Kita berangkat dari hotel pagi-pagi dan sudah membawa kain Ihram. Setelah itu kita berangkat ke Masjid Bir Ali tepat sebelum Sholat Zuhur karena memang lebih efektif seperti itu. Jama'ah lain umumnya ke Masjid Bir Ali setelah Sholat Zuhur, tapi karena itu bakal rame banget, akhirnya kita Sholat Zuhur di Masjid Bir Ali sekalian ambil Miqat untuk ber-Ihram. Selesai Sholat Zuhur dan Sholat Sunnah Ihram, akhirnya kita pun berangkat ke Mekkah. Perjalanan ke Mekkah itu kira-kira 6 jam dan kita sempat berhenti sebentar di rest area ditengah jalan yang khusus untuk Jama'ah Indonesia. Kita sampai di Mekkah sore sebelum Maghrib dan kita istirahat sebentar di hotel karena memang kita akan melakukan prosesi Umroh setelah Isya. Prosesi Umroh pun dimulai dengan Tawaf di Masjidil Haram, kemudian Sa'i antara bukit Safa dan Marwah dan diakhiri dengan memotong sedikit rambut kita. Prosesi Umroh selesai roughly tengah malam dan sampe dihotel kita semua pun tepar. 

Hari berikutnya agendanya adalah City Tour Mekkah yang sebenarnya adalah mengunjungi tempat-tempat untuk Beribadah Haji seperti Jabal Rahmah, Padang Arafah dan Mina. Kita berangkat pagi-pagi karena siang hari itu kita akan melakukan Umroh kedua. Untuk Umroh kedua tidak seperti malam sebelumnya yang kita Sa'i dengan cara berjalan, kali ini Sa'i menggunakan scooter. Asyik sih Sa'i menggunakan scooter karena tidak capek dan lebih cepat. Gua satu scooter dengan paman gua dan gua  bertugas nyetir scooter dan paman gua memimpin bacaan Doa selama Sa'i


Selesai Umroh kita pun balik ke hotel dan seperti yang sudah bisa ditebak, kita semua tepar. Tapi malamnya, gua pergi keluar jalan-jalan sekitar Masjidil Haram dan gua untuk pertama kalinya Sholat Isya di trotoar karena ya waktu itu Azan dan udah gak keburu masuk ke Masjidil Haram. 

Besoknya kita pergi mengunjungi Ta'if dan ya sedikit belajar tentang sejarah kota tersebut dan disana kita mengunjungi semacam kebun strawberry. Disitu paman gua sebenarnya ngajak Umroh lagi tapi karena semua sudah kelelahan dan ingin menikmati waktu disana, akhirnya kita memutuskan untuk tidak Umroh hari itu. Balik dari Tai'f gua pun jalan-jalan sekitar Masjidil Haram lagi karena ya gua ini traveler, yang membedakan gua dengan Jama'ah lain adalah saat ada free time ya gua bakal jalan-jalan, eksplor, sedangkan yang lain ya biasanya cuma ngobrol di hotel sambil ngerokok. Malamnya gua diajak paman gua makan di KFC yang ada didalam salah satu mall yang kalau mau masuk harus naik tangga, tapi jujur aja gua lupa nama mall-nya apa. 


Besoknya itu hari Jum'at dan kita melaksanakan Sholat Jum'at di Tower menara jam👆🏼 karena didalamnya ada Mushola yang menghadap langsung ke Ka'bah. Hari itu juga acara bebas sih karena memang seluruh prosesi Umroh itu dan juga tour-nya sangat banyak dan panjang dan juga melelahkan, akhirnya ya gua memutuskan untuk traveling aja keliling kota Mekkah. 

Besoknya adalah hari kepulangan kita ke Indonesia. Sebelum berangkat ke Jeddah kita melaksanakan Tawaf Wada. Kita berangkat pagi agak siangan ke kota Jeddah. Jujur aja gua awalnya berharap kita berangkat dari terminal baru bandara Jeddah, tapi ternyata berangkatnya dari terminal Haji. Pesawat kita berangkat jam 1 malam dan kita punya waktu seharian untuk bersantai di Jeddah. Kita pergi ke Cornes yang berlokasi tidak jauh dari Al-Balat yang merupakan kota tua Jeddah. Setelah Saudi membuka pariwisata, banyak travel vlogger yang gua tonton di Youtube pergi ke Jeddah dan mereka pastinya mengunjungi Al-Balat. Disana gua berkenalan dengan orang lokal Jeddah yang jadi tour guide gua karena memang dia sangat ingin belajar Bahasa Inggris dan saat mengetahui gua lancar Bahasa Inggris ya dia akhirnya menemani gua. Disana gua juga bertemu dengan turis asal Italia. Saat pergi ke Jeddah memang berasa seperti ke negara lain karena memang mulai dari 2018 Saudi itu mulai melonggarkan peraturan Syari'ah mereka, perempuan tidak lagi wajib berhijab ataupun memakai Abaya. Gua bahkan melihat beberapa cewek Filipina jalan dengan celana mini diatas paha. Disana juga banyak turis yang memang ya mereka bisa santai aja jalan dengan baju kasual. Gua sangat puas exploring Al-Balat karena orang lokal yang guiding gua, dia namanya Jemmy ya dia ramah dan juga gua dibeliin roti dan susu serta air putih selama gua touring Al-Balat. 



Sayangnya karena Jama'ah lainnya sudah pada bosen dan pada gak sabar ke Bandara, gua akhirnya ditelpon paman gua untuk ke bus karena kita akan segera berangkat ke bandara. Kita sampai di bandara pas Maghrib dan itu masih lama banget sebelum pesawat kita berangkat. Kita kembali menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Gua sangat beruntung saat perjalanan pulang karena gua dapet kursi dibelakang dan satu baris kursi gua itu kosong, jadi ya gua bisa tidur selonjoran dan itu adalah tidur paling nyenyak gua saat berada di pesawat. Saat penerbangan juga gua melihat ada beberapa turis Eropa yang juga gabung dalam penerbangan kita, gua gak kaget karena memang Saudi sudah membuka pariwisata mereka dan mungkin turis-turis tersebut pada mau ke Bali setelah mengunjungi Saudi. 

Kita pun nyampe hari berikutnya Minggu 13 Agustus 2023. Disana bokap nyokap gua datang jemput dan paman gua juga udah sekalian ngikut karena memang rumah paman gua nggak jauh dari rumah ortu gua. Oke sekian cerita pengalaman Umroh gua. 

Rabu, 02 September 2020

Go back to Bali

 Di postingan ini gua akan memberikan sedikit update setelah cukup lama tidak menulis. Jadi gua balik ke Bali pas tanggal 23 Agustus. Semua pasti sudah tau bahwa semester ini menteri pendidikan Bapak Nadiem Makarim mengumukan bahwa kuliah akan kembali berjalan online dan perkuliahan dikampus hanya dibatasi sekedar praktikum, lab atau skripsi yang intinya tidak bisa dilakukan dirumah. Technically itulah yang menjadi alasan gua balik karena memang ada mata kuliah praktikum yang gua ambil dan tidak bisa dilakukan sendiri dirumah. Tapi sebenarnya alasan gua balik lebih dari itu.

Jadi gua pulang ke Jakarta sebelum libur nyepi pada tanggal 16 Maret kemaren. Perkuliahan dikampus dihentikan karena ya semua orang juga tau, pandemi, yang sampe sekarang masih berlangsung. Jadi memang awalnya kampus ditutup selama 2 minggu dan memang waktu itu rencananya adalah gua akan balik ke bali saat kampus udah dibuka, tapi kemudian dengan jumlah kasus Covid19 yang terus menerus bertambah di Indonesia membuat penutupan kampus gua diperpanjang sampe 4 kali. Awalnya 2 minggu, kemudian sebulan, kemudian sampe abis lebaran. Gua sendiri juga awalnya rencana dirumah doang hanya 2 minggu, trus ya gitulah, diperpanjang lagi, jadi sebulan, 2 bulan dan akhirnya total lama gua di Jakarta adalah 5 bulan + 1 minggu. 

Jujur aja gua seneng bisa balik, karena memang gua agak kurang nyaman di Jakarta, sebenarnya bukan gua gak nyaman sama keluarga, tapi lebih ke arah yang untuk prokteksi. Nyokap gua itu punya penyakit autoimun, dan orang dengan penyakit autoimun, jangankan virus corona, flu aja mereka udah susah banget. Nah masalahnya adalah gua itu setelah lebaran lumayan banyak keluar, ya memang alasannya adalah karena sejak gua kuliah, gua memang lumayan jadi anak outdoor, gua kurang suka cuma ngerem aja dirumah, makanya pas mall udah buka, PSBB di longgarkan, ya gua akhirnya banyak keluar, ketemu temen dsb. Tapi ya gua keluar pastinya sama aja mengekspos diri gua terhadap virus yang sedang mewabah, dan tentunya ini ya sama aja menaroh ibu gua dalam area resiko, makanya gua berpikir ya daripada gua dirumah doang dan memang kurang produktif, gua sendiri juga udah lama banget gak main bulutangkis yang memang bikin skill gua tuh kering, mungkin kalo udah liat story IG gua yang gua upload, bener-bener kering skill gua, jadi ya gua ngerasa lebih baik gua di Bali, gua bisa lebih produktif, gua juga kembali bisa lebih mandiri, dan ya intinya gua bisa tidak menempatkan ibu gua ke area resiko atau dalam bahasa Inggris jeopardy

Nah tapi jangan beranggapan karena gua sering keluar berarti gua gak takut terhadap virus dan meremehkan situasi, memang bener dalam situasi pandemi seperti ini sebenarnya hal yang paling aman adalah ya stay dirumah aja, tapi ya masa kalian mau ngerem aja dirumah berbulan-bulan, kan gak mungkin, kalian juga kehilangan kesempatan bersosialisasi, blom juga orang yang memiliki usaha sangat terdampak akibat pandemi ini, kita tau diseluruh dunia semua negara ya intinya struggling banget secara ekonomi. Baru-baru ini gua ikut projek Youtuber aviasi, Sam Chui , dia minta followernya, dan orang-orang pecinta aviasi untuk membuat video opini tentang keadaan industri penerbangan saat ini apa harapan kita, well gua muncul divlognya cuma sepotong doang sih dibagian akhir dan ada dicantumin IG gua, tapi ya yang penting masuklah. Nah cuma poin gua disini adalah, ya dari industri aviasi aja contohnya,  banyak pilot, pramugari, pramugara, petugas check ini, ground staff dll kehilangan pekerjaan mereka karena ya, pemasukan maskapai berkurang jauh, disaat yang sama maskapai harus menggaji, akhirnya apa? ya banyak yang kena PHK. Nah ini maksudnya, jadi dengan ekonomi yang menjadi terhambat karena pandemi, otomatis ya semua orang mau gak mau harus keluar dan kembali bekerja agar dapat kembali pemasukan, ekonomi juga harus kembali berjalan karena pada dasarnya, kita juga harus tau uang negara itu bukan tidak terbatas, negara itu juga bisa bangkrut loh, liat aja Yunani, setelah tau tentang Yunani gua akhirnya tau kalo negara bisa bangkrut. Makanya itu kenapa pemerintah Indonesia gak mau lockdown, karena ya kas negara gak akan cukup untuk kasih makan semua orang tanpa ada sirkulasi ekonomi. Itu juga kenapa Amerika, Italia, Jerman dan negara-negara yang paling tinggi kasusnya menolak lockdown, karena mereka sudah merasakan nestapanya ekonomi yang tidak berjalan. Itulah kenapa meskipun gua banyak keluar, tapi ya gua tetep disiplin memakai masker, ya intinya gini, sekarang kan kita udah lebih longgar nih, ya tanggung jawab kita pada diri sendiri dan ke sekitar sebenarnya simpel aja, ya pakai masker, itu udah cukup kok, memang masker nggak melindungi 100% tapi memang dari dulu juga yang namanya urusan dengan virus atau penyakit ya bukan kita memikirkan gimana caranya biar gak tertular tapi gimana kita mengurangi resiko penularan. Sebelum pandemi ini kita tau masker itu dipakai untuk orang yang sakit karena untuk mengurangi resiko dia menularkan penyakit ke yang lain, nah sekarang kita kurangi resiko kita menularkan ataupun tertular dengan memakai masker. 

Bali sendiri saat ini kondisinya miserable banget. Gua memang ekspektasi Bali gak akan serame biasanya tapi apa yang gua liat justru lebih parah dari ekspektasi gua. Bali itu bener-bener sepi, keadaannya gak serame Jakarta, dan lalu lintas itu lengang banget. Bapak kos gua aja sampe di PHK karena emang sepi, banyak hotel yang emang tutup karena ya gak ada yang check in gak ada yang berkunjung jadi ya wajar aja akhirnya PHK rame-rame. Jalan legian yang normalnya jam 8 malem itu masih rame dan macet, ini tuh udah kayak zombie apocalypse, trus juga pantai-pantai sepi, toko-toko suvenir dan yang mayoritas pelanggannya itu turis pada tutup. Gua jujur aja sedih sih, karena 80% ekonomi Bali itu kan dari pariwisata. Jujur aja, ini pandemi ini parah banget sih karena ya gua gak nyangka sampe sebesar ini, gua sendiri jujur aja gak tau jumlah kasus di Indo atau dunia berapa karena gua udah males ngikutin dan gua jadi berpikiran hopeless kalo terus ngikutin itu makanya ya gua lebih ngikutin perkembangan vaksin yang jujur aja ini sangat mengejutkan cepatnya, beberapa perusahaan bahkan udah masuk fase ketiga uji manusia, sebelumnya gua berpikir bahwa kita harus berani ambil resiko bahkan kalo memang mau coba herd immunity coba aja karena sebelum pandemi ini, vaksin tercepat yang ditemukan itu adalah ebola yang itupun 5 tahun, dan banyak vaksin itu bahkan sampe puluhan tahun. Nah sekarang, dalam waktu kurang dari setahun udah banyak perusahaan yang memberi update bahwa mereka bisa menyediakan vaksin per akhir tahun ini. Ya wajar sih, semua perusahaan tersebut ya mereka diminta oleh pemerintah dan pemerintah juga jor-joran mengalirkan dana karena ya itu, mereka butuh secepatnya vaksin agar hidup bisa normal lagi. Dan pastinya kalau udah jadi vaksinnya, ini rekor luar biasa banget. Ya gua sih berdoa semoga per akhir tahun ini vaksin bisa jadi sehingga nanti kalau gua wisuda, gua wisuda di gedung Widya Sabha Unud, karena jujur aja, gua udah mikir kayaknya gua bakal wisuda online yang menurut gua jangan sampe Naudzubillah karena mengingat gimana perjuangan gua untuk kuliah, huhu, gak asik banget ujung-ujungnya waktu yang gua tunggu-tunggu malah cuma dirumah doang. 

Ya itulah untuk postingan kali ini, ini ada beberapa foto yang gua ambil baru-baru ini di Bali








Sabtu, 23 Februari 2019

Belanda

Untuk postingan ini, gua akan menjelaskan gimana Belanda overall secara penilaian mata gua dan juga pengalaman yang gua petik dari sana. Belanda itu adalah negara kecil, tapi cukup padat, oiya, kepadatan suatu negara itu gak dihitung oleh populasi ya, tapi dari densitas negara tersebut (jumlah orang per kilometer persegi). Jadi dengan luas wilayah 41000 km persegi, itu populasi Belanda adalah 17 juta orang, berarti densitas Belanda kira-kira 416 orang perkilometer persegi. Jika dibandingkan dengan suatu provinsi di Indonesia, yang luasnya gak beda jauh dengan Belanda adalah Sumatra Barat dengan luas 42000 km persegi, dan populasi Sumbar adalah 5 juta. Gua sendiri sebenarnya belom pernah ke Padang atau Bukittinggi di Sumbar karena memang gua gak punya keluarga disana, tapi gua mengatakan ini based dari observasi gua terhadap kota Padang via google earth. Jujur, dengan melihat ini secara matematika, sebenarnya banyak kota di Indonesia termasuk Padang, Bali, dan banyak kota lainnya di Indonesia yang sebenarnya punya potensi untuk bisa lebih bagus dari Eropa, ya gua pake contoh Padang ini, karena Sumbar dan Belanda dengan luas area yang hampir sama tapi populasi Belanda itu sampe lebih dari 3 kali Sumbar, itu menunjukkan bahwa Sumbar ini bisa berpotensi untuk dibangun sebagus atau bahkan lebih bagus daripada Belanda. Disini gua gak mengatakan bahwa misalnya Padang harus dibikin sepersis atau semirip mungkin dengan Belanda, tapi gua mengatakan bahwa dengan ciri khas kita sendiri, kita bisa membangun lebih dari Belanda gitu. 

Oke, ini topiknya Belanda ya, bukan Padang, tadi cuma perbandingan. Ibukota Belanda sendiri seperti yang udah pernah dikasih tau dari SD sampe SMA dan secara dulu kita dijajah mereka, Ibukota Belanda adalah Amsterdam, populasinya lebih kurang itu 800 sampai 900 ribu orang, dan ini adalah kota terbesar di Belanda, untuk regensinya sendiri (semacam wilayah kayak jabodetabeknya Belanda gitu) atau Raanstad namanya itu populasinya 8 juta orang. Amsterdam juga merupakan kota terbesar di Belanda. Pas gua nyampe di Amsterdam Schipol Airport, itu suhunya saat itu adalah 8 derajat celsius, dan waktu itu gua sama Kakak gua dijemput sama sepupu gua disana. Awalnya gua kira keluarga gua yang disana tuh tinggal di Amsterdam, ternyata mereka tinggal di kota kecil namanya Moordrecht dan itu lebih deket ke Rotterdam daripada Amsterdam. First impression pas gua nyampe tuh, itu bener-bener mereka lalu lintasnya rapih banget, sebelum masuk ke mobil, sepupu gua itu bayar parkir dulu pake kartu debit atau kredit gua juga kurang tau dan itu ya dibayarnya di mesin bayar parkir gitu, keren banget sih semuanya sudah tersistematik dengan mesin. Untuk tol, disana tol itu nggak ada gerbang tol, karena bayar tol itu udah masuk ke pajak mobil, makanya gak ada gerbang tol. Seperti mainstreamnya negara eropa, posisi setir itu disebelah kiri, otomatis jalan disebelah kanan, dan gua gak tau negara eropa lain yang posisi setir itu dikanan selain Inggris, gua gak tau lagi apa. Terus gua juga ngeh kalo disana itu pas lagi lampu merah, itu misalnya dijalan ini ada 4 jalur, makan tiap jalur itu atasnya akan ada lampunya, jadi anggap lampu jalur 1 jadi hijau, maka cuma mobil dijalur 1 doang yang jalan, selama lampu dijalur 2,3 dan 4 masih merah, yaaa mereka gak akan jalan. Intinya disini tuh semua sudah masuk kedalam sistem. 

Nyampe disana, gua tinggal di rumah Buyut gua, Usianya udah 93 tahun, tapi Alhamdulillah masih sehat. Pas gua dateng, seluruh keluarga disana pada nyambut gitu. Gua seneng di Belanda orang pada bisa Bahasa Inggris, karena secara gua gak bisa Bahasa Belanda. Untuk sepupu gua, mereka adalah generasi termuda orang Indonesia yang lahir dan berwarga di Belanda, dan untuk generasi sepupu gua, kebanyakan pada gak bisa Bahasa Indonesia, tapi untuk Om, Tante, mereka masih bisa Bahasa Indonesia. 


Selama di Belanda, gua pergi ke kota-kota besarnya seperti Leiden, Utrecht, Rotterdam, The Hague dll. Untuk kota Moordrecht sendiri lokasinya deket sama Gouda, dan memang untuk kemana-mana naik kereta, itu lebih mudah lewat Gouda, karena memang disitulah stasiun terdekat. Btw, Gouda itu terkenal didunia sebagai pusatnya keju, dan memang keju terbaik itu dari sana. Kota paling favorit di Belanda, untuk gua adalah Utrecht, entah gimana, ini adalah tipikal Dutch city yang paling suitable gitu buat gua, karena memang kalo di Amsterdam, itu kotanya juga gak jauh beda dari Utrecht tapi gua kurang nyaman disana karena ganja dimana-mana. Untuk Rotterdam, gua ngerasa ini kota yang paling hilang karakter Dutch-nya, karena memang kotanya terlalu modern dan mereka gak seperti tipikal kota klasik Dutch gitu, sama juga dengan The Hague. Tapi untuk Utrecht, ini baru favorit banget sih, bener-bener keciri klasik Dutch, tapi juga lebih nyaman, dan gua ngerasa di Utrecht orangnya lebih beradab daripada tempat lainnya di Belanda. 








Jumat, 22 Februari 2019

Pengalaman Pertama naik Garuda Indonesia

Oke, masih di perjalanan gua ke Eropa kemaren, jadi udah tau ya kalo gua kemaren naik maskapai Garuda Indonesia. Ini adalah kali pertama gua naik maskapai Garuda, yang reputasinya udah gak perlu dipertanyakan lagi di Indonesia maupun diluar negeri. Selain Garuda, maskapai internasional yang pernah gua naikin adalah Airasia X, Jetstar dan Turkish Airline. Turkish Airline adalah maskapai internasional pertama yang pernah gua naikin dan itu tahun 2013, gak usah ditanyalah kemana gua pergi dengan maskapai ini. Terus untuk maskapai Airasia X dan Jetstar adalah maskapai yang gua pakai ketika pergi ke Australia pada tahun 2015. 

Sedikit informasi, rute Garuda di Eropa itu hanya ada Amsterdam dan London doang, karena kemaren gua ke Amsterdam, gua kurang tau gimana penumpang yang ke London, tapi untuk Amsterdam, harus gua akui kalo penerbangan ini pas gua kesana dan balik lagi itu selalu penuh, yaaa gak penuh 100%, mungkin ada nyampe 90% lah, tapi segitu aja sih udah menguntungkan. Untuk penerbangan dengan Garuda ini, gua akui pelayanannya, service-nya itu excelent, gak bohong lah kalo mereka dapet rating bintang lima. Tapi overall, penerbangan kemaren tuh sejujurnya ya gua gak enjoy 100%, karena memang durasi penerbangannya tuh 14 jam, dan itu kalo dikelas ekonomi tuh cukup melelahkan. Kalo gua liat gimana kelas bisnisnya ya, untuk 14 jam mah pasti enjoy aja, tapi untuk ekonomi, gua sih kayaknya gak mau lagi. Gua seperti manusia pada umumnya, gua tuh tidur dalam sehari maksimal 8 jam, dan kemaren pas gua dipesawat, tidur, yaaa kan nggak mungkin ya selama penerbangan itu full tidur aja, kan ada waktu makan, apalagi makanan disajikan 3 kali, setelah take off, mid flight meal dan sebelum landing, dan yaaa kalo dari pengalaman gua kemaren, itu gua tidur tuh yaaa kira-kira 6 jam, dan tidur selama 6 jam, gua masih ada sisa 8 jam gak bisa tidur, pas gua tidur aja, itu gua inget banget pas bangunnya tuh kaki gua pegel, punggung gua tegang, tangan gua tegang, leher gua juga gak rilex, yaaa gitulah nasib orang kelas ekonomi, kalo kata bokap gua sih itu karena gua belom terbiasa, tapi kalo pas gua nanya ke nyokap gua (kemaren gua cuma bareng kakak gua, bokap nyokap gua udah di Jerman duluan), katanya nyokap gua sendiri juga nggak kuat kalo terbang selama itu, makanya kemaren pas nyokap bokap gua ke Jerman, mereka naik Emirates dan ya taulah, transit dulu di Dubai. In the end, itu semua tergantung orang masing-masing sih, kalo bokap gua tipe yang suka direct flight, mau selama apapun, pokoknya bokap gua cuss langsung kesana, kakak gua sih kayaknya sama ama bokap, tapi kalo gua sih lebih kayak nyokap, mending transit dulu, karena lumayan lah, transit, turun dari pesawat, regangin otot dulu, rilex, lurusin kaki, buang air besar dll. Kalo gua naik business class, yaaa gua sih belom pernah ya, tapi kalo ngeliat seat business class, yaa gua mungkin bisa enjoy penerbangan yang lama, tapi yaaa tetep lah dimana-mana, pengen nyaman kudu ada $$$ lebih. 

Tapi untuk pelayanan Garudanya sendiri udah enak sih, udah sesuai dengan ekspektasi, dan udah sesuai dengan kriteria bintang 5. Ini adalah hidangan yang diberikan oleh Garuda selama perjalanan gua balik dari Amsterdam ke Jakarta.



Minggu, 03 Februari 2019

Perjalanan Eropa

Sebenarnya ini telat nulisnya, karena emang gua gak bawa laptop. Jadi meneruskan setelah gua apply visa ke Belanda, gua pergi ke Belanda pas pertengahan Januari kemaren, tepatnya gua berangkat dari Jakarta tanggal 11 Januari jam 11 malem menggunakan maskapai Garuda Indonesia penerbangan langsung ke Amsterdam. Penerbangan ke Amsterdam berlangsung selama 14 jam, gua juga balik pakai Garuda langsung dari Amterdam. Ini adalah kali pertama gua terbang dengan Garuda Indonesia dan meskipun pelayanan kabin dll yaa udah bertaraf bintang lima, tapi gua jadi gak enjoy karena lamanya penerbangan, jadi gak enjoy, jujur gua setelah penerbangan ini, gua gak mau lagi terbang lebih dari 8 jam karena jujur aja, gak tahan sih, gua mending transit kalo penerbangan lebih dari 8 jam. Oke back to journey, gua berangkat ke Amsterdam jam 11 malem setelah delay 45 menit. Service Garuda sangat excelent, gak heran dapet ★★★★★.

Gua nyampe di Bandara Schipol Amsterdam jam 8 pagi waktu sana dan karena winter, suhu pas gua dateng itu 8 derajat celsius dan waktu itu hujan. Hujannya gak deras, tapi gak gerimis juga, dan lama juga. Gua dijemput sama sepupu gua yang tinggal disana, dari Schipol kita pergi ke kota kecil deket Rotterdam namanya Moordrecht, 1 jam dari Schipol. Inilah kota Moordrecht






Disana gua tinggal dirumah buyut gua yang berusia 93 tahun dari bokap gua. Gua di Belanda selama 5 hari, gua mengunjungi kota Amsterdam, Rotterdam, Utrecht, Leiden, Gouda, Leylistad dan The Hague. Tanggal 16 Januari gua pergi ke Brussels naik kereta dan stop di Stasiun Midi dan spend dua malam disana, baru tanggal 18 gua pergi ke Munchen buat nyusul bokap nyokap gua, kesana naik bus. Gua di Munchen selama 8 hari, kemudian tanggal 25 Januari pergi ke Vienna, dan tanggal 28 balik ke Belanda, dan spend sisa tiga hari disana balik ke Indonesia tanggal 1 Februari. 

Dari yang gua amati secara langsung, Eropa itu sebenarnya untuk tipe kota itu bisa dibilang yaaa sama semua, mereka secara arsitek itu memang sangat berseni, tapi untuk sistem sosial, tiap negara memiliki ciri khas masing-masing. Terlepas dari tensi politik di Eropa saat ini, gua melihat masyarakat mereka sangat oke dalam menjalani kehidupan mereka. Oiya, gua selama jalan-jalan disana itu gak pernah pake guide sama sekali, dan gak juga pake tour, sehingga gua yaaa jalan-jalan disana mostly pake transport umum, paling pake mobil pas di Belanda doang, karena emang ada sodara jadi kemana-mana dianter, tapi tetep disana sering juga pake transport umum. Kalo gua sih lebih refer untuk travel itu yaaa sendiri gitu, maksudnya yaaa mandiri, gak pake tour atau travel, karena dengan cara ini ya kita bisa merasakan seperti apa hidup ditempat tersebut, menurut gua itu lebih beneficial sih, jadi bisa lebih hemat juga, dan gua disana juga gak pernah nginep dihotel, selalu nginep di apartemen yang disewakan di air bnb. 

Dari kota-kota yang kemaren gua kunjungi, inilah peringkat favorit gua, sekaligus skornya
  1. Munchen 92
  2. Utrecht 87
  3. Vienna 85
  4. Rotterdam 83
  5. The Hague 82
  6. Gouda 80
  7. Leiden 79
  8. Amsterdam 74
  9. Brussels 62
Dari kota-kota diatas, pasti mikir kenapa Amsterdam gua taruh kedua paling gak favorit dan kenapa Brussels skornya jauh dibawah, oke ini penjelasannya. 
Selama gua disana, gua menilai kota-kota dari tingkat kebersihan, kerapihan tata kota, lalu lintas, keamanan, dan efisiensi transportasi umum. Amsterdam nilainya jatuh karena legalnya ganja disana, dan gua kena gen nyokap gua yang alergi terhadap ganja, kalau gua nyium ganja, langsung pusing dan hidung gua meler, itulah yang menjadi minus di Amsterdam. Kalau Brussels minusnya di kebersihan kota, lalu lintas, keamanan dan efisiensi tranportasi umum. Untuk Brussels gua gak begitu terpesona, dari pas nyampe di stasiunnya aja gua gak terpesona, biasanya tipikal stasiun di Eropa itu modern, arsitektur keren, peronnya jugaaaa, pas gua turun dari kereta aja, entah ya, gua mikir "kok bagusan peron stasiun kota ya daripada Gare du Midi Bruxeles". Trus pas keluar dari stasiun, jalanannya kotor gitu, sampah dimana-mana, pengemis dimana-mana, aspal jalanan juga rusak-rusak gitu, udah gitu kotanya juga kurang aman gitu, bayangin aja, baru dateng aja, make up poach punya kakak gua langsung kecopetan, untung bukan dompetnya, si copet ngira tempat make up kakak gua itu dompet. Orang-orangnya juga pada gak bisa bahasa Inggris, trus orang-orang gila, entah gila, entah mabok, selalu berkeliaran dimana-mana, itulah kenapa skor Brussels jatuh banget. 

Gua akan bahas lebih lanjut tentang perjalanan gua di Eropa kemaren di postingan beriktunya.

Oiya gua juga pas di Vienna makan di restoran Der Wiener Deewan yang ditunjukan di film 99 Cahaya di langit Eropa. 



Jumat, 14 Desember 2018

Visa ke Belanda

Kabar baik untuk gua, kemaren gua baru aja ngambil paspor gua di konsulat Belanda di Benoa Square dan a good news, gua mendapat Visa Belanda, bukan cuma visa Belanda, tapi juga Schengen visa yang berarti gua bisa dengan mudah jalan-jalan ke negara-negara sekitar Belanda yang merupakan anggota Schengen area, kayak contohnya Jerman, Perancis, Belgia, Luxembourg, Swiss dll. 

Apa aja yang harus dipersiapkan untuk apply visa ke Belanda???, cukup kompleks sebenarnya, dan prosesnya lebih rumit daripada pas gua jalan-jalan ke Australia. Ini adalah proses yang gua alami selama gua apply visa Belanda yang kira-kira memakan waktu 2 minggu. Dokumen yang harus dipersiapkan untuk apply visa ini adalah : 
  1. KK 
  2. akta kelahiran
  3. surat keterangan mahasiswa aktif
  4. untuk yang Belanda kali ini, gua harus cetak rekening koran di bank, untuk memastikan bahwa gua punya cukup uang ketika berangkat nanti
  5. rencana perjalanan (itinerary)
  6. tiket kalo bisa langsung beli PP
  7. kalo punya keluarga disana, yaaa kontak keluarga disana untuk menghubungi pihak Kedutaan, dengan demikian lu ada guarantier gitulah. 
  8. karena nyokap gua S3 di Jerman dan nanti ada trip ke Jerman, otomatis juga keterangan PhD nyokap gua harus tertera, intinya adalah dokumen yang mendukung dan setidaknya memastikan pihak kedutaan bahwa lu akan kembali lagi ke negara lu.
  9. Untuk visa Belanda, lu harus cetak foto lagi, ukuran 3.5x4.5, background warna putih
  10. Asuransi perjalanan jangan lupa, sebagai pendukung juga
Gua tuh awalnya apply visa untuk turis, tapi kemudian diganti jadi visa visit family or friend gitu deh, oke ini prosesnya
  1. Jadi setelah siapin dokumen untuk diserahkan, langsung apply online di website ini (http://www.vfsglobal.com/netherlands/indonesia/ ), trus langsung buat appointment di konsulat Belanda yang ada di lantai 3 Benoa Square. Biaya appointment adalah 440 ribu
  2. Karena rekening koran jadi persyaratan, yang harus diingat, buat appointment max 1 minggu setelah cetak rekening koran di Bank, kalo udah lewat 1 minggu maka rekening koran angus dan harus cetak ulang lagi ke Bank
  3. Jangan lupa download form dan checklist document, trus di print. Untuk checklist document ini, sesuaikan dengan dokumen yang sudah disiapkan, jangan ditambah-tambah apalagi dikurang-kurang, plus harus sesuai urutan yang ada di checklist document itu. Jangan lupa juga untuk isi form visa application.
  4. Datang ke Konsulat sesuai dengan waktu appointment, gua inget itu hari Selasa 4 Desember 2018 jam 9:15. 
  5. Semua dokumen yang disiapkan, termasuk paspor diserahkan di konter mereka, harus diingat, dokumen yang disiapkan harus diurutkan sesuai dengan checklist document. 
  6. Waktu itu gua gak ditanyain banyak sih, cuma ditanya berapa hari disana, gua bilang 21 hari, trus udah, gak ditanya apa-apa lagi. 
  7. Abis itu nanti akan ada pemindaian sidik jari, nah disini termasuk yang vital, pastikan jari lu gak ada bekas luka atau apapun, intinya bersih lah, gua inget Tante gua ditolak visa ke Amerika hanya karena ada luka di jarinya. 
  8. Bayar uang visa sebesar 1 juta rupiah, dan gua gak bawa balik dokumen yang diserahkan karena emang mereka proses dulu, yaaa 3 sampai 15 hari lah
Dan setelah menunggu 1 minggu dan akhirnya kemaren dapet email kalo gua udah bisa ambil paspor gua dan..... deng deng....



Dapet lah visa Belanda, bukan cuma Belanda, tapi Schengen visa yang membuat gua untuk pergi ke Jerman, Perancis, Belagia dll yang intinya negara Schengen, gua tinggal pergi aja, gak perlu apply visa lagi. Soal Schengen ini mungkin bisa googling sendiri ya, tapi intinya Schengen area ini adalah area dimana perbatasan internasional beberapa negara Eropa itu dibuka sehingga orang bebas berpindah-pindah kemanapun mereka bebas, dan Schengen ini memang hasil kerja Uni Eropa, meski begitu gak semua negara Uni Eropa jadi bagian Schengen, Inggris, Irlandia, Kroasia, bukan bagian dari Schengen area, sehingga untuk ke negara-negara ini harus apply visa lagi, makanya nanti gua gak ke London. 

Sabtu, 26 Agustus 2017

Bali

Halo guys, udah lama nih gak ngepost, BTW lu pada pasti udah tau yaaa gw kuliah di Bali. Well there are goods and bads in here, tapi gw bakal sharing sedikit dari 2 bulan gw tinggal di Bali. Kalo dilihat secara fisik, Bali itu menurut gw adalah tempat paling oke sih di Indonesia, mungkin hal yang sulit karena di kampus gw gak ada Masjid, Masjid ada di deket kos gw. Trus juga anjing ada dimana-mana, jadi harus ekstra aware takutnya kena jilatnya, kalo gw sih mengakalinya dengan kalo jalan kemana-mana pake celana pendek, karena kalo pake celana panjang yaaa kalo kena jilat kan nyuci celananya yang repot karena harus pake tanah lagi, blom lagi noda tanahnya berbekas, jadi mending pake celana pendek. Tapi overall sih gw suka disini, macetnya gak separah Jakarta, trus kotanya juga lebih rapih, udaranya lebih bersih, dan kepuasan nomor 1 di Bali adalah sedikit nyamuk, malahan kosan gw aja gak ada nyamuk, jadi gw bisa tidur puas dengan tenang. Yaaa bagaimanapun yaa semua pada akhirnya wajib di syukuri. Mungkin concern gw tentang Bali adalah public transport aja sih seperti yang gw jelasin di post sebelumnya, karena di Bali ini ada Trans Sarbagita yang ingin mengikuti konsep Transjakarta tanpa mempertimbangkan kekurangannya, itu aja sih concern gw, makanya gw kemaren pas ospek, kan ada tugas kelompok bikin contoh PKM, nah itu gw ngambil tema public transport ini, terutama Bus yaaa yang di post gw yang awal-awal itu gw memasukkan kedalam kategori Primer. 

Untuk kampus Udayana sendiri yaaa nyaman, trus juga bangunannya tradisional, kampusnya besar juga kayak Univ prestisius lainnya, bedanya Unud ini lebih bermasyarakat, itu best point dari Unud. 
Oke here is several photos from Bali